Tazkiyatun-Nufus
Halaqoh #005
Bab 1: Ikhlas dan Mutaba'ah #4
🔗 Ikhlas Bagian 4: Beberapa Petuah Salaf Tentang Ikhlas
Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc
Halaqoh #005
Bab 1: Ikhlas dan Mutaba'ah #4
🔗 Ikhlas Bagian 4: Beberapa Petuah Salaf Tentang Ikhlas
Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc
بِسْمِ
الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة اللّه ﺗﻌﺎﻟﯽٰ وبركاته
السلام عليكم ورحمة اللّه ﺗﻌﺎﻟﯽٰ وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ الله نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْه فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَمَّا بَعْدُ؛
Ikhwanī wa akhawatī fillah rohimani
wa rohimakumullahu jamī'an, saudara dan saudari ku sekalian yang dirahmati
Allāh Subhānahu wa Ta'āla dimanapun anda berada, pada halaqah yang kelima ini,
kajian kita Tazkiyatun Nufus karya Syaikh DR Ahmad Farid, masuk pada beberapa
riwayat tentang ikhlas dengan kata lain adalah petuah tentang ikhlas.
Beberapa
ucapan atau perkataan yang dibawakan oleh penulis, sangat penting untuk kita
cermati, kita renungi, karena faedah yang besar yang ada pada kandungan dari
makna ungkapan-ungkapan mereka.
1⃣Berkata Imam Ya’qub
Imam
Ya’qub berkata, “Orang yang Ikhlas itu adalah orang yang menyembunyikan
kebaikan-kebaikannya sebagaimana menyembunyikan keburukan-keburukannya".
Sebagaimana
dalam hadits yang disebutkan Nabi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam
diantara 7 golongan yang dijamin untuk mendapatkan naungan pada hari tidak ada
naungan kecuali naungan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, mereka itu diantaranya
adalah: Seseorang yang bershodaqoh, lalu menyembunyikannya, sehingga tangan
kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
2⃣Berkata
Imam Susi
"Ikhlas
itu adalah tidak memandang diri telah ikhlas, karena barang siapa telah
memandang pada keikhlasannya itu ikhlas, sungguh ikhlasnya itu masih
membutuhkan ikhlas yang lain".
Jika
orang menganggap dia telah ikhlas, maka ia masih membutuhkan ikhlas yang lain.
Karena hakekatnya dia belum ikhlas.
Syaikh
mengomentari, “apa yang disebutkan oleh Imam Susi tadi adalah sebagai isyarat
tentang pembersihan amal, pensucian amal", dari apa ? dari ujub dalam
perbuatan. Membersihkan amal dari ujub di dalam perbuatan, karena ujub itu
menyeret seseorang pada ketertipuan. Kalau orang sudah ujub, sehingga berbangga
dengan amal sholehnya, justru akan merusak amal sholehnya. Karena sesungguhnya
orang yang memandang dan mengangap melihat dirinya telah ikhlas pada
keikhlasannya, berarti itu adalah suatu ujub, berbangga diri dengan amal
sholehnya. Ujub adalah katagori dari perusak-perusak keikhlasan. Sedangkan amal
yang ikhlas itu adalah amal yang bersih dari segala perusak-perusaknya.
3⃣Berkata
Imam Ayyub
"Mengikhlaskan
segala niat bagi orang yang beramal itu lebih sulit baginya dari pada amal itu
sendiri".
Sebagian
lagi mengatakan "Ikhlas sesaat, itu adalah keselamatan abadi".
Orang kalau bisa ikhlas walaupun sesaat, itu keberuntungan selama-lamanya, karena amal sholeh ini akan menjadi penolongnya nanti di hari kiamat. Akan tetapi ikhlas itu sulit dan betapa sulitnya ikhlas itu.
Orang kalau bisa ikhlas walaupun sesaat, itu keberuntungan selama-lamanya, karena amal sholeh ini akan menjadi penolongnya nanti di hari kiamat. Akan tetapi ikhlas itu sulit dan betapa sulitnya ikhlas itu.
Dikatakan
kepada Sahal, "Apakah yang paling bagi jiwa berat itu ?". Beliau
berkata “Ikhlas”. Karena bagi jiwa itu tidak ada bagian untuk ikhlas, bagian
ruang untuk keikhlasan, seolah jiwa ini selalu mengarah kepada keburukan.
Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya jiwa itu senantiasa mengarahkan kepada
keburukan”. Sehingga seolah-olah di sana tidak ada ruang, tidak ada space untuk
ikhlas. Jiwa senantiasa mengarah kepada tidak ikhlas. Ini dikatakan oleh Sahl,
tatkala ditanya apa yang berat bagi jiwa manusia itu. Yang paling berat bagi
jiwa manusia itu adalah ikhlas.
Berkata
Fudhail bin 'Iyyādh rahimahullāhu Ta'āla, "Meninggalkan amal karena
manusia riya’, begitu pula beramal karena manusia itu pun juga syirik".
Lalu apa yang selamat ? Yang ikhlas itu adalah Allah menyelamatkanmu dari
keduanya, dari riya’ dan juga dari syirik. Meninggalkan amal karena manusia itu
riya’ , karena sejatinya orang itu tidak perlu mengurungkan amal sholeh karena
sebab manusia.
Rasūlullāh
shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda,
مَنْ التَمَسَ رِضَا الله بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ الله مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ الله وَكَلَهُ الله إِلَى النَّاسِ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ
مَنْ التَمَسَ رِضَا الله بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ الله مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنْ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ الله وَكَلَهُ الله إِلَى النَّاسِ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ
“Barang siapa yang mencari ridho Allah, dengan sebab mencari
ridho Allah itu menyebabkan manusia murka kepadanya, maka Allah akan ridho
kepadanya dan Allah akan menjadikan manusia ridho kepadanya". Namun
sebaliknya, "barang siapa yang mencari ridho manusia, dan karena mencari
ridho manusia tadi menyebabkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya dan
Allah akan jadikan manusia murka kepadanya". (HR Tirmidzi 2414)
Balasan
itu tergantung amal perbuatan, karena seseorang mencari kebaikan, mencari
keridhoan Allah, Allah membalas dengan menjadikan manusia ridho kepadanya.
Sebaliknya, karena dia mencari kemurkaan Allah ditukar dengan mencari keridhoan
manusia, balasannya adalah dia mendapatkan kemurkaan manusia. Sedangkan beramal
karena manusia adalah syirik. Keduanya adalah syirik ashghor, riya’ syirik
ashghor syirik disini pun syirik ashghor. Sedangkan ikhlas adalah Allah
menyelamatkanmu dari keduanya, dari riya' dan dari syirik, dan semoga Allāh
Subhānahu wa Ta'āla mengkaruniakan kepada kita ikhlas di dalam semua
ucapan dan perbuatan kita.
والله
تعلى و أعلم بالصواب، و الحمد الله ربّ العالمين
ثم السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
ثم السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
✏ Disalin oleh Tim Transkrip
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
➡️Madrasah Ahlussunnah Waljama'ah Li I'dad Du'at Desa Bener, Kec. Tengaran, Kab. Semarang
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
➡️Madrasah Ahlussunnah Waljama'ah Li I'dad Du'at Desa Bener, Kec. Tengaran, Kab. Semarang






0 komentar:
Posting Komentar