Selasa, 03 Maret 2015

Tazkiyatun-Nufus Halaqoh #004



Tazkiyatun-Nufus
Halaqoh #004
🔗 Bab 1: Ikhlas dan Mutaba'ah #3
Ikhlas Bagian 3
Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة اللّه ﺗﻌﺎﻟﯽٰ وبركاته
اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طيّبًا مباركًا فيه كَمَا يحبّوا ربّنا ويرضى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. لا نبيّ ولا رسول بعده. أَمَّا بَعْدُ؛
Ikhwanī wa akhawatī fillah rohimani wa rohimakumullahu jamī'an, saudara dan saudari ku sekalian dimanapun anda berada yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kembali pada halaqah yang keempat ini   in syā Allāh, kita melanjutkan masih pada bab ikhlas. Masih pada penjelasan lanjutan dari halaqah yang ketiga.  
Berkata Mu'allif (penulis) Syaikh DR Ahmad Farid  hafizhahullāhu Ta'ala, setiap harapan dari harapan-harapan dunia, setiap bagian dari bagian dunia yang jiwa menjadi tenang dengannya, yang hati cenderung kepadanya, sedikit atau banyaknya, apabila telah mencampuri amalan, maka akan mengotori kejernihan amalan tadi, sehingga hilanglah ikhlasnya.
Dan kita tahu bahwa seseorang itu terikat, terbelenggu dengan harapan-harapannya, tenggelam dengan syahwat-syahwatnya. Sedikit sekali dari perbuatannya ataupun ibadahnya yang bisa lepas dari harapan-harapan dunia dan tujuan-tujuan dunia yang sebentar.
Oleh karena itu ada yang mengatakan, barang siapa yang selamat sejenak saja, ikhlas mengharap wajah Allāh di dalam umurnya, maka dia telah sukses. Hal ini tentu karena saking agungnya ikhlas, sehingga banyak sekali orang yang tidak selamat dalam hal ini.
Syaikh mengatakan, hal ini karena beratnya ikhlas, ikhlas bukan perkara yang mudah, semua kita butuh ikhlas, semua kita masih harus senantiasa berusaha untuk ikhlas. Seorang 'alim, seorang penuntut ilmu, seorang penulis, seorang pemateri kajian, seorang yang beribadah, apapun dia, dia harus senantiasa untuk berusaha ikhlas di dalam ibadahnya tersebut agar tidak terkotori dengan suatu amalan apapun, harapan-harapan dunia apapun, karena kalau sudah ada nasībun/hadzdzun (bagian-bagian dari dunia ini yang mengotorinya) yang akan merusak keikhlasan, yang akan mengotori keikhlasannya.
Hal ini karena susahnya ikhlas, beratnya ikhlas dan susahnya mensucikan hati dari segala yang mengotorinya.
Karena kita tahu bahwa, ikhlas itu adalah mensucikan hati dari segala kotoran-kotoran yang mengotori semuanya, sedikitnya atau banyaknya. Sampai betul-betul murni dalam memaksudkan taqorrubnya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, tidak ada pendorong, tidak ada motivasi, kecuali semata-mata karena ikhlas, mengharap wajah Allah. Dan hal ini tidak bisa digambarkan, kecuali hanya dari orang yang cinta kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, yang sudah tenggelam cita-citanya, orientasinya mengharapkan kebahagian akhirat dan akhirat, atau dengan istilah kita akhirat oriented. Jadi akhirat menjadi orientasi terbesar dan obsesinya untuk sukses, karena kita tahu Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menyatakannya bahwa: “akhirat itu lebih baik dan lebih kekal”.
Jadi orang yang ikhlas betul-betul karena kecintaannya kepada Allāh, karena dia telah tenggelam dalam cita-citanya untuk menggapai kebahagian akhirat, sehingga tidak ada yang diinginkannya, melainkan betul-betul keridhaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kecintaan Allāh kepadanya, sehingga dunia seolah-olah telah dibuangnya jauh-jauh, tidak ada tempat dihatinya dunia. Orang bilang dunia di genggamannya, tapi akhirat di hatinya.
Dimana tidak ada tersisa tempat di hatinya untuk cinta terhadap dunia. Permisalan orang seperti ini sekalipun dia dalam hal makan, minum ataupun membuang hajatnya, maka diupayakan untuk ikhlas amal dan meluruskan niatnya, menshahihkan niatnya.
Kalau belum bisa demikian keadaannya, untuk berupaya senantiasa ikhlas dalam segala gerak langkah kehidupannya, ucapan dan yang diperbuatnya, maka pintu keikhlasan telah tertutup atasnya, kecuali sangat jarang yang bisa memasukinya, kecuali orang-orang yang Allah berikan rahmatNya.
Ikhwanī wa akhawatī fillah rohimani wa rohimakumullahu.
Kemudian Mu’allif juga mengatakan, dan sebagaimana orang yang telah lebih dominan dalam hatinya kecintaan pada Allāh, kecintaan terhadap negeri akhirat, itu akan gerak kehidupannya yang sehari-hari, rutinitasnya menjadi cerminan cita-citanya, sehingga jadilah ikhlas dalam seluruh gerakan-gerakan yang rutinitas sekalipun.
Maka sebaliknya yang lebih dominan atas dirinya cinta terhadap dunia, cinta terhadap ilmu-ilmu dunia, kedudukan ataupun pangkat secara umum, adalah kepada selain Allāh, maka demikian pula akan menjadikan seluruh gerak kehidupannya sehari-hari untuk meraih sifat-sifat tersebut, akan tercermin pada sifat-sifat tersebut. Sehingga tidak selamat satu ibadah pun, baik berupa puasa, sholat atau selain itu semua, kecuali sangat jarang. Maksudnya tidak selamat dari keikhlasan, terbelenggu pada kekangan riya’, kekangan sum’ah, kekangan jabatan, kedudukan, dan seterusnya.
Lalu apa solusinya, apa obatnya, apa resepnya agar kita bisa hilang dari belenggu ini ?
Penulis hafidzohullāhuta’ala menuliskan disini, “obat atau resep mujarab agar bisa ikhlas adalah memupus segala harapan-harapan dunia, memupus segala kesenangan-kesenngan syahwat, mengekang ketamakan terhadap dunia, dan mengusahakan agar hati selalu terfokus terhadap akhirat. Hal ini nampak dimana dia bisa menjadi dominan dalam hatinya, yaitu memurnikan dan mengusahakan segala aktifitasnya mengharap kebahagiaan akhirat. Karena dengan hal itulah akan mudah ikhlas. Berapa banyak amalan yang seorang capek dan dirinya menganggap ikhlas mengharap wajah Allah, maka malah sebaliknya dia menjadi orang-orang yang tertipu, karena tidak menyadari sisi yang merusaknya, sisi yang menghancurkan ikhlasnya. Berapa banyak dari manusia yang berpeluh keringat dan bersemangat di dalam beribadah, tetapi karena tidak ada ikhlas di dalam dadanya, tidak ada ikhlas yang membarengi amal ibadah tadi, sehingga ibadahnya tidak diterima di sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Dicontohkan oleh Syaikh di sini, tentang gambaran orang yang menganggap dirinya telah sanggup ikhlas, telah mampu ikhlas, padahal ternyata dia tertipu dengan amalannya.
Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian salaf, bahwasanya salah seorang diantara mereka sholat dan senantiasa di shaf yang pertama, shaf awal, namun terlambat pada suatu hari dari sholat, sehingga dia harus sholat di shaf yang kedua, lalu diliputi rasa malu terhadap manusia, karena manusia melihatnya di shaf yang kedua, maka dia sekarang mengetahui bahwa kebahagiannya selama ini di dalam dia sholat di shaf yang pertama adalah karena sebabnya pandangan manusia kepadanya.
Artinya bahwa dia masih beribadah selama ini, sholatnya selama ini dikerjakan adalah mencari pandangan manusia, bukan murni mencari pandangan Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Dalam arti, harusnya jika memang dia mencari pandangan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, karena memang sebab udzurnya syar’i sehingga menyebabkan terlambatnya sholat, harusnya tidak menjadikan dia kemudian malu untuk mengerjakan amal sholeh, karena tidak ada malu di dalam amal sholeh.
Kalau kita ingin melakukan kebaikan, maka kita harus segera melakukannya, berlomba-lomba untuk menggapainya, bukan malu, sehingga tidak ada malu bagi seseorang untuk bertanya tentang ilmu, tidak boleh seorang malu untuk mengakui kebodohannya, tidak boleh seorang malu untuk menghilangkan kebodohannya dengan belajar, menghadiri majelis ilmu dan seterusnya. Dan ini adalah perkara yang kecil lagi rumit. Artinya banyak orang yang menganggap remeh, mengabaikan, karena saking kecilnya perkara ini. Ghomidh karena rumit, samar, hampir-hampir orang-orang tidak menyadarinya, bahwa perkara ini ada pada dirinya, mungkin terkadang orang rajin karena bertamu di rumah orang, sholat di shaf pertama, rajin beribadah, sholat malam, terkadang orang rajin beribadah karena banyak orang yang melihatnya, terkadang seseorang rajin melakukan ibadah karena ada mertuanya dan seterusnya.
Sedikit sekali dari amal-amal sholeh yang selamat dari keikhlasan dan amal-amal yang semisalnya. Dan sedikit sekali orang yang perhatian menyadari akan hal ini, kecuali orang yang telah Allāh beri taufik kepadanya. Dan orang-orang yang lalai itu akan melihat kebaikan-kebaikan mereka di dunia pada hari kiamat sebagai keburukan, sebagai amal kejelekan. Dan mereka lah yang dimaksud dalam firman Allah:
QS Az-Zumar 47-48:
بِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ (47) وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (48)
Dan pada hari kiamat itu jelaslah bagi mereka dari Allah apa-apa yang belum pernah mereka perkirakan, dan jelaslah bagi mereka keburukan dari apa-apa yang telah mereka kerjakan.
QS Al-Kahfi 103-104:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104)
Katakanlan, maukah kalian kami kabarkan tentang orang-orang yang paling merugi amalan mereka, yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.
Maka, ikhwanī fiddīn wa akhawatī fillah rohimani wa rohimakumullahu.
Betapa beratnya ikhlas, betapa susahnya untuk mengapai ikhlas, sehingga bagi siapa saja untuk terus belajar ikhlas, kemudian berusaha untuk mengaplikasikannya, melatih diri untuk senantiasa ikhlas, membiasakannya bermajelis bersama mereka orang-orang yang ikhlas, yaitu orang-orang yang beramal bukan hanya di musim amal, tetapi orang-orang yang beramal pada setiap musimnya, bukan hanya musim ramadhan kemudian mereka beribadah, karena mereka adalah hamba Allah sepanjang tahun, mereka hamba Allah 24 jam, sehingga mereka berusaha menjadi orang-orang yang senantiasa ikhlas, senantiasa mengamalkan ibadah pada setiap saatnya karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Demikian, ikhwani fiddin wa akhawati fillah.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan taufik kepada kita untuk bisa ikhlas dalam ucapan dan perbuatan.
والله تعلى و أعلم بالصواب
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين، و الحمد الله ربّ العالمين
ثم السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  
Disalin oleh Tim Transkrip
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
️Madrasah Ahlussunnah Waljama'ah Li I'dad Du'at Desa Bener, Kec. Tengaran, Kab. Semarang

Tazkiyatun-Nufus Halaqoh #003



Tazkiyatun-Nufus
Halaqoh #003
🔗 Bab 1: Ikhlas dan Mutaba'ah #2
Ikhlas Bagian 2
Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بهدا إلى يوم القيامة، أَمَّا بَعْدُ
Ikhwan fiddin wa akhawat fillah rohimani wa rohimakumullah, pada halaqah yang ketiga ini   ان شاء الله, kita akan membahas masih pada rangkaian tentang ikhlas, khususnya adalah tentang pengertian dari ikhlas.
Mu'allif Syaikh DR Ahmad Farid حفظه الله mengatakan "Ikhlas itu adalah memurnikan tujuan dalam bertaqorrub kepada Allāh dari hal-hal yang mengotorinya".
Karena terkadang ibadah itu meski niatnya sudah benar, terkadang dicampuri dengan hal-hal yang mengotorinya, seperti riya', ingin dipuji, ingin didengar atau sum'ah istilahnya, dan seterusnya. Sehingga hal-hal inilah yang dikatakan sesuatu yang mengotorinya.
Arti lainnya dari ikhlas itu adalah menjadikan Allāh sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk keta'atan. Memurnikan maksud atau tujuan di dalam keta'atan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla, atau ini tepatnya adalah ikhlas yang lawan dari syirik. Bahwa ikhlas itu adalah memurnikan ibadah semata-mata hanya untuk Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Yang lain mengatakan "Ikhlas itu adalah mengabaikan/melupakan pandangan makhluk dengan senantiasa dan berkonsentrasi memandang kepada pandangan Allah yang maha pencipta. Jadi disini berarti seseorang yang ikhlas itu adalah orang yang tidak mencari pandangan manusia, tidak mencari sebutan manusia, dia dicela beramal, dipuji beramal, jadi pujian dan celaan tidak menyurutkan dia untuk beramal shaleh. Pujian tidak menjadikan semakin semangat untuk beramal shaleh, ataupun celaan tidak membuat surut untuk beramal sholeh. Karena yang dia pandang dan dia cari adalan pandangan Allāh Subhānahu wa Ta'āla, bukan pandangan makhluk.
Sebagaimana ungkapan para ulama, bahwa ridho manusia itu tujuan yang tidak akan pernah tercapai. Sehingga kalau kita mencari pandangan manusia, mencari keridhoan manusia adalah suatu tujuan yang tidak akan pernah ada tepinya.
Demikian pula karena karakter dari manusia itu selalu memuji atau mencela. Sebagaimana ungkapan lainnya, bahwa "Ucapan manusia itu tidak ada habisnya".
Kemudian Syaikh mengatakan lagi, bahwa "Ikhlas adalah syarat diterimanya amal sholeh. Dan amal sholeh itu amal yang berkesesuaian dengan sunnah   Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, itu baru dikatakan amal sholeh.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah memerintahkan kita semua untuk senantiasa ikhlas, QS Al-Bayyinah 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.
Demikian pula Nabi telah menerangkan tentang bagaimana sebenarnya jika suatu pekerjaan atau suatu perbuatan, bahkan perbuatan yang mulia dan tinggi pahalanya disisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla seperti jihad, jika niatnya adalah semata-mata mencari sebutan, entah gelar pahlawan ataupun yang lainnya, atau hanya sekedar upah atau bayaran.
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الْأَجْرَ وَالذِّكْرَ مَالَهُ فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الله لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata: Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam seraya berkata, "Bagaimana pendapat baginda tentang seseorang yang berperang mengharapkan balasan dan pujian, apa yang ia dapatkan?" Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda, 'Ia tidak akan mendapatkan apapun?" Kemudian orang itu mengulang pertanyaannya —sampai— tiga kali, dan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawabnya dengan bersabda, "Ia tidak akan mendapatkan apapun" Lalu beliau bersabda, "Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla  tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas hanya mengharap wajah-Nya"
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Nasa'i, dihasankan oleh 'Iraqi dan dihasankan oleh Imam Albany rahimahullah dalam Shahihah.
Dalam riwayat yang lain:
Dari Abu Sa'id Al-Khudri  radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu berkata, bahwa   Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pada saat haji wada, bersabda:
نضر الله امْرأ سمع مَقَالَتي فوعاها فَرب حَامِل فقه لَيْسَ بفقيه ثَلَاث لَا يغل عَلَيْهِنَّ قلب امرىء مُؤمن إخلاص الْعَمَل لله والمناصحة لائمة الْمُسلمين وَلُزُوم جَمَاعَتهمْ فَإِن دعاءهم مُحِيط من ورائهم
"Semoga Allah membuat wajah berseri-seri atau mencerahkannya bagi seseorang yang mendengar ucapanku, lalu dia memahaminya. Berapa banyak pembawa fikih yang tidak fakih (tidak mengerti fikih). Tiga perkara yang (karenanya) hati seorang Mukmin tidak akan ditimpa dengki: Mengikhlaskan amal karena Allah, memberi nasihat kepada para pemimpin kaum Muslimin dan berpegang kepada jamaah mereka, karena doa mereka mengelilingi mereka dari belakang mereka."
Ada tiga hal yang hati seorang mukmin tidak dengki, yaitu:
Mengikhlaskan amal hanya karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla
Saling memberikan nasehat kepada para pemimpin kaum muslimin.
Berpegang teguh bersama jama'ah kaum muslimin.
Hadits hasan shohih ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dan diriwayatkan oleh ibnu Qudamah, Imam Darimi, Imam Bukhori, Imam Ahmad dan dishohihkan oleh Al-Albany.
Apa makna dari hadits ini ?
Bahwa, dengan tiga perkara ini hati akan menjadi baik, maka barang siapa yang berakhlak dengan tiga perkara tadi, apa itu ? Ikhlas dalam beramal hanya karena Allāh, menasehati pemimpin kaum muslimin karena seseorang tidak menasehati pemimpinnya kecuali karena kebaikan, makanya karena menasehati pemimpin kaum muslimin itu adalah sebagai bentuk keikhlasan sebagai bentuk tidak ada perkara hasad didalamnya, maka jika menasehati pemimpin bukan di mimbar-mimbar ataupun di tempat umum, melainkan secara langsung one by one, ketemu face to face. Ini adalah afdholul jihaad.
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
Seutama-utama jihad adalah kalimat yang benar yang disampaikan kepada pemimpin yang dholim.
dan kalimat yang benar ini disampaikan dengan cara nasehat. Nasehat itu bukan dibeberkan di tempat-tempat umum, tetapi disampaikan orang per orang, one by one, empat mata saja.
Dan yang ketiga tadi adalah berpegang teguh dengan jama'ah mereka.
Dengan tiga perkara tersebut maka akan bersih dari khianat, dari dengki dan dari keburukan. Demikian pula kita tahu bahwa seorang hamba tidak akan bisa lepas dari jeratan syaithon, kecuali dengan ikhlas.
Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla :
QS : Shod 83
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Kecuali hamba-hamba Allah yang diantara nya adalah orang-orang yang ikhlas.
Allāh menyebutkan dalam QS Shod ayat 83 ini, tentang ucapan syaithan tatkala syaithan diusir oleh Allāh dari surga, kemudian dia bersumpah untuk menyesatkan semua anak Adam, namun dia mengakui dan menyadari bahwa dia tidak akan sanggup mengganggu anak Adam, yaitu kecuali hamba-hamba Allāh yang diantara mereka adalah orang-orang yang ikhlas.
Diriwayatkan, bahwa ada salah seorang diantara orang yang sholeh, mengatakan kepada dirinya, "wahai jiwa, wahai jiwa, ikhlaslah, ikhlaslah, maka engkau akan lepas dari belenggu. Engkau akan bebas, engkau akan selamat, ikhlaslah, maka engkau akan selamat".
Demikian, wallahuta'ala wa a'lam bishshowāb. Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengkaruniakan kepada kita keikhlasan di dalam ucapan dan perbuatan. Dan semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan kepada kita taufik untuk senantiasa ikhlas dalam ucapan, perbuatan dan juga dimudahkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam tholabul 'ilmi ini.
Wallāhu almuwāfiq, hādzā ma'akulu lakum, walhamdulillāhirobbil 'ālamīn.
Wassalamu'alaikum warahmatullāhi wabarokatuh.
Disalin oleh Tim Transkrip
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
️Madrasah Ahlussunnah Waljama'ah Li I'dad Du'at Desa Bener, Kec. Tengaran, Kab. Semarang

Tazkiyatun-Nufus Halaqoh #002



Tazkiyatun-Nufus
Halaqoh #002
🔗 Bab 1: Ikhlas dan Mutaba'ah #1
Ikhlas Bagian 1
✨Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ الله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.  لا نبيّ ولا رسول بعده.  أَمَّا بَعْدُ؛
Ikhwan fiddin wa akhawat fillah rohimani wa rohimakumullah, pada halaqah yang kedua ini   ان شاء الله ﺗﻌﺎﻟﯽٰ, kita masuk pada bab awwal, bab Ikhlas dan Ittiba'.
Ikhlas dan ittiba' mengikuti Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, adalah dua syarat untuk diterimanya amal. Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak menerima amalan dari amal-amal sehingga terpenuhi di dalam amal tersebut dua syarat, yaitu:
Ikhlas, yaitu syarat bathin.
Mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, yaitu syarat dhohir,
Jadi, Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak akan menerima amalan seorang hamba, sehingga dia betul-betul memurnikan amalan tersebut hanya karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla, ikhlas. Ini perkara penting di dalam tazkiyatun nufus, bahwa terkadang seorang mengabaikan amalan yang dilakukannya, apakah sudah ikhlas atau belum, dia tidak perhatian terhadapnya, padahal seharusnya dia perhatian, bahwa ikhlas adalah syarat mutlak agar amalannya itu diterima, ini syarat bathin karena yang tahu hanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Sedangkan yang kedua adalah dengan mengikuti sunnah  Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, ini dikatakan syarat dhohir karena nampak. Dan meskipun sudah ikhlas namun tidak mengikuti sunnah   Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka bisa tertolak.
Apa dalil tentang ikhlas ? Dan apa dalil tentang mutaba'ah sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ?
Hal ini terkumpul dalam QS Al-Muluk 2:
Sebagaimana telah dikatakan oleh penulis disini, "Dan makna ini telah ditunjuki dalam kitabullāh yang telah diturunkan (yaitu alQur'an) dan sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, nabi yang mursal, nabi yang telah diutus shallallāhu 'alayhi wa sallam. Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya."
Yang dimaksud dengan "yang paling baik amalannya", adalah (Fudl bin Iyyadh) mengatakan: "yaitu yang paling ikhlas dan paling benar"
Jadi yang paling ikhlas dan yang paling benar. Itulah sesungguhnya yang dimaksud dengan ahsanu 'amala. Karena sesungguhnya amalan, apabila ikhlas tapi tidak benar, maksudnya tidak mutaba'ah yakni tidak mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, maka tidak diterima. Dan juga berlaku sebaliknya. Meskipun benar yakni mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima.
Oleh karena itu Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakannya dalam QS Al-Kahfi 110:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Dan Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan dalam beribadat kepada Tuhannya dengan suatu apapun."
Apa yang dimaksud dengan amal shalaeh ?
Amal sholeh disini adalah yang berkesuaian dengan sunnah. Maksudnya mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam. Meneladani, mencontoh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Yang dimaksud dengan janganlah ia mempersekutukan dalam beribadat kepada Tuhannya dengan suatu apapun adalah ikhlas.
Makanya ini juga tertunjuki dalam ayat ini (QS AlKahfi 110).
Demikian juga Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang memasrahkan/menghadapkan wajahnya karena Allah, dan diapun berbuat ihsan." (QS An-Nisaa 125).
Apa yang dimaksud dengan أِسْلَمَ وَجْهِ ?
Maksud dari menyerahkan dirinya kepada Allah adalah ikhlas
Dan yang dimaksud dengan ihsan adalah mutaba'ah, yaitu mengikuti sunnah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Maka dalam kaitannya dengan tazkiyatun nufus ini, kita harus selalu perhatian, bahwa yang paling utama untuk kita selalu garap adalah memperbaiki keikhlasan secara bathin dan secara lahir adalah mengikuti Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Demikian semoga bermanfa'at
Wassalamu'alaikum warahmatullāhi wabarokatuh.
Disalin oleh Tim Transkrip
✅ Dimuraja'ah oleh Ustadz Tauhiddin Ali Rusdi Sahal, Lc.
Berdasarkan kitab Tazkiyatun Nufus (penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
️Madrasah Ahlussunnah Waljama'ah Li I'dad Du'at Desa Bener, Kec. Tengaran, Kab. Semarang